Seorang muslim yang taat dalam mengarungi samudra kehidupannya, sangat memerlukan tawakkal sebagai dayung untuk mengatur bahtera kehidupannya, khususnya dalam perkara "rezeki".
Pemikiran dan hati umat manusia telah disibukkan dengan permasalahan yang satu ini, sehingga seringkali membuat badan menjadi letih, terpuruk dalam khayal dan angan angan, lembur di malam hari dan keletihan di siang hari.
Bahkan ada yang mengorbankan seluruh tenaga dan kehormatannya hanya untuk mendapatkan "sesuap nasi".
Itu semua karena ia memiliki obsesi bahwa rezeki itu berada di tangan seorang makhluk seperti dirinya, bila ia berkehendak ia dapat memberikan dan apabila ia berkehendak ia bisa mencegahnya pula.
Kehidupannya, anak dan istrinya berada di tangannya, dan menurut kaca mata atau pandangan peribadinya dia lah penentu dalam kehidupan dan kematian sebagaimana yang telah dikatakan oleh raja"Namrud" dalam berargumentasi menghadapi Kholilullah Nabi Ibrahim a.s. seperti yang telah diceritakan dalam Al Qur'an.
Di dalam Al Qur'an ada sembilan ayat yang menunjukkan perintah Allah kepada Rasulullah SAW untuk bertawakkal, empat di antaranya diturunkan di Mekah yaitu:
"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkal lah kepada-Nya...."(QS. Huud: 123)
" Dan bertawakkal lah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbih lah dengan memuji-Nya." (QS. Al Furqan: 58)
"Dan bertawakkal lah kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. Asy Syu'araa: 17)
"Sebab itu bertawakkal lah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yangnyata." (QS. An Naml: 79)
Sedangkan lima yang lainditurunkan di Madinah, yaitu firman Allah:
"....Kemudian apabila kamu telah membualatkan tekad, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran: 159)
" ...Allah menulissiasat yang mereka atur di malam hari itu, maka beroalinglah kamu dari mereka,dan bertawakkal lah kepada Allah, cukuplah Allah menjadi pelindung." (QS. AnNisaa' : 81)
" Dan jika merekacondong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. "(QS. Al Anfaal : 61)
"Dan bertawakkal lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. Al Ahzab: 3)
"Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkal lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebgai pelindung." (QS. Al Ahzab: 48)
Dan juga ada ayat perintah tawakkal untuk Rasulullah SAW yang kesepuluh tetapi dengan sighah yang berbeda, yaitu firman Allah dalam surat Al Muzammil ayat 6.
Dan banyak ayat lain yang memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan perintah tawakkal dari Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Dan banyak perintah Allah kepada seluruh umat untuk bertawakkal kepada-Nya melalui lisan para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.
Sesuatu yang kita maklumi, bahwa segala perintah yang ditujukan (dikhitabkan) kepada Rasulullah sesungguhnya juga tertuju kepada seluruh mukallaf dari umat Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Jadi perintah kepada Rasulullah SAW untuk bertawakkal juga adalah perintah untuk seluruh umat mukminin secara kaaffah.
Al Qur'an telah menegaskan kepada kita bahwa tawakkal merupakan akhlak seluruh rasul, mulai dari nabi Nuh 'alaihis-Salam hingga nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi Wa Sallama.
Salah satu fadhilah tawakkal yang ada dalam Al Qur'an, adalah firman Allah dalam surah Al Maidahayat 23 yang menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan tawakkal sebagai syarat dari iman.
Manakala hilang tawakkal maka hilanglah iman itu.
Di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini, dengan mengamalkan ajaran shaum yang benar, maka sesungguhnya kita dapat mengamalkan sikap tawakkal yang amat berguna di dalam hidup ini. Semoga ...
WallahuA'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar